Harlah Ke-95 NU : Kado untuk Ketua PCNU Pamekasan

3 tahun ago admin 0

PAMEKASAN – Ada dua hal yang menarik pada HARLAH NU ke 95 tahun ini: Pertama, Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur berkomitmen memperingati hari lahir atau Harlah NU dengan perhitungan tahun hijriah. Hal tersebut sebagai pengejawantahan aturan organisasi yakni yang menandaskan bahwa hari lahir NU adalah 16 Rajab 1344 H bertepatan 31 Januari 1926 M.

Kedua,dan yang lebih menarik lagi adalah dimunculkannya kembali pernyataan tegas salah satu penggagas, pendiri dan Rais Aam pertama PBNU KH. Abdul Wahab Hasbullah: “Banyak pemimpin NU yang tidak menyadari kekuatannya sendiri, sehingga menjadi korban golongan lain yang ingin menjadikan sebagai kuda tunggangan pihak lain dengan menggunakan dalih persatuan. Kita ikhlash berkorban untuk ukhuwwah dan persatuan yang jujur. Tapi kita menolak persatuan antara kusir dan kuda, sang kusir hanya duduk mengangkang sementara sang kuda berlari lari menarik beban sambil menerima cambukan.

Tak berlebihan bila sosok KH. Abdul Wahab Chasbullah yang dimunculkan di Harlah NU kali ini karena seperti yang tertulis dalam buku KH Wahab Chasbullah, Biografi Singkat 1888-1971, yang ditulis Muhammad Rifai (2010), antara lain disebutkan bahwa nafas pergerakan NU hampir tak bisa terlepas dari peran serta Kiai Wahab. Menurut Idham Khalid, Kiai Wahab berkeinginan menjadikan NU sebagai sebuah pesantren, yakni tempat beribadah, menuntut ilmu, bergotong royong, dan mengabdikan dirinya kepada masyarakat dengan menyumbangkan karya- karyanya yang bermanfaat.

“Kiai Wahab merupakan wujud NU dalam praktek. Suatu kombinasi integral antara ketakwaan, keilmuan, akhlak, dedikasi, dan karya baik besar maupun kecil. Organisasi ini lahir dari aspirasi pesantren, di antara kiai, dan di antara santri- santrinya yang terpencil jauh dari jangkauan penguasa dan pemimpin politik. Karena itu, kelahirannya tak menggetarkan kaum pergerakan serta politisi,” tulis Muhammad Rifa’i.

Laju sebuah organisasi sangat ditentukan oleh pemimpinnya karena paling tidak fungsi kepemimpinan memiliki dua dimensi yaitu: pertama, dimensi yang berkenaan dengan tingkat kemampuan mengarahkan (direction) dalam tindakan atau aktivitas pemimpin. Kedua, dimensi yang berkenaan dengan tingkat dukungan (support) atau keterlibatan orang-orang yang dipimpin dalam melaksanakan tugas-tugas pokok kelompok atau organisasi.

Saya sebagai salah satu warga NU yang hidup di Pamekasan sudah 4 kali mengalami perubahan kepemimpinan mulai zamannya KH. Abdul Hamid Mannan Munif, KH. Khalilurrahman, KH. Abd. Ghaffar dan saat ini KH. Taufik Hasyim. Dari keempat tokoh tersebut, satu-satunya tokoh muda yang memimpin NU di Pamekasan adalah KH. Taufik Hasyi.

Beliau anak pertama dari pasangan berbahagia Alm KH. Hasyim Rofi’i dan Nyai Hj. Musfiroh PP. Sumber Anom, Angsanah Palengaan, walaupun masih muda beliau sebelum menjabat sebagai ketua PCNU Pamekasan adalah seorang aktifis kemahasiswaan tercatat pernah menjadi presiden Mahasiswa (BEM) IAI Tribakti Lirboyo, Kediri, periode 2004-2005 dan juga menjadi pengurus cabang PMII Kediri. Beliau juga seorang penulis handal karena sempat menjadi wartawan dan redaktur pelaksana majalah “Misykat” Lirboyo dan masih banyak lagi pengalaman organisasi lainnya.

Memimpin NU di Pamekasan, tak semudah menggawangi NU di kabupaten lain, karena di Pamekasan warganya lebih banyak didominasi NU kultural daripada NU struktural (beramaliyah NU tapi enggan berjuang di NU sebagai pengurus NU). Namun KH. Taufik tak pernah pupus harapan, sebagai Ketua PCNU Pamekasan, beliau telaten dan gigih berkomitmen akan mengibarkan bendera NU di kota Gerbangsalam. Sudah dua tahun KH. Taufik menjadi nahkoda PCNU Pamekasan sejak dibai’at.

Di awal memimpin, KH. Taufik melakukan gebrakan dengan menghidupkan lagi lembaga-lembaga dan badan otonom yang terkesan mati suri sebelumnya, sekaligus berupaya mensosialisasikan NU melalui media, dengan membuat media NU Online (Pamekasan) www.pcnu-pamekasan.or.id dan menjalin hubungan baik dengan media lain khususnya di Pamekasan. Hal ini tampak sekali pengaruhnya di warga NU lapisan bawah akan lebih mengenal sejatinya NU daripada mendengar dan membaca isu tak bermartabat (sebagaimana banyak terjadi belakangan ini) yang akan menghancurkan NU.

Kantor PCNU saat ini ditata apik sehingga pengurus PCNU kerasan di kantor apalagi saat ini sudah dibuka cafe yang seringkali dijadikan tempat santai sembari membicarakan masa depan NU pamekasan. NU bisa besar bila kepengurusan di tingkat bawah hidup (ranting dan MWC), sejak KH. Taufik menjabat berupaya meningkatkan intensitas harmoni silaturrahim ke tingkat bawah dengan turba (turun ke bawah) dan bimbingan administrasi dengan cara semacam “akreditasi” oleh tim yang telah dibentuk sebelumnya. Hasilnya sangat fantastis di mana daerah pantai utara yang semula kurang mengenal NU perlahan-lahan ada perubahan signifikan bisa berjuang bersama di Nahdlatul Ulama dengan dinahkodai sosok muda KH. Taufik.

***

Seperti yang ditulis di media resmi NU (NU online) oleh A. Khairul bahwa Nahdlatul Ulama (NU), adalah organisasi sosial keagamaan (jam’iyah) terbesar di Indonesia. Awal kelahiran NU sendiri tidak dapat dilepaskan dari kehadiran dua faktor utama, yakni realitas ke-Islaman dan realitas ke-Indonesia-an. Pada realitas ke-Islaman NU lahir sebagai suatu wadah bergabungnya para ulama dalam memperjuangkan “tradisi pemahaman dan pengalaman ajaran Islam yang sesuai dengan kultur Indonesia”.

NU dilahirkan oleh ulama pesantren sebagai wadah persatuan bagi para ulama serta para pengikutnya, guna mempertahankan paham Ahlussunnah wal Jama’ah yang berarti pengikut Nabi Muhammad SAW. Sedangkan, dalam realitas ke-Indonesiaan, kelahiran NU merupakan bagian dari pengaruh politik etis yang diterapkan Belanda dalam konteks perjuangan mewujudkan kemerdekaan.

Maka walaupun pada tahun 1983, atas hasil Munas ke-86, telah diputuskan bahwa NU sudah tidak lagi berkecimpung di dalam politik dan menjadi organisasi keagamaan yang murni. Namun seringkali NU dibawa ke dalam kepentingan politik praktis maka tak berlebihan bila kiai Taufiq berjanji tegas apabila beliau terlibat politik praktis akan mundur dari kepemimpinannya sebagai ketua PCNU Pamekasan. Subhanallah.

Selamat bertugas kiai, doa kami menyertai perjuangan anda.

Penulis : KH. M Musleh Adnan, Wakil Ketua Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) Cabang Pamekasan.