Harlah NU 95: Sebuah Renungan

6 tahun ago admin 0

Oleh: KH Afifuddin Toha


Berawal dari tahun 1926 (tahun berdirinya NU) ketika atas amanat KH Hasyim Asy’ari melalui KH Wahab Hasbullah meminta KH Sirojuddin, pengasuh PP Miftahul Ulum Bettet untuk mendirikan NU di Pamekasan, NU sebagai jam’iyyah eksis di Kabupaten ini.

Melihat sejarah sepintas kiprah NU di Kabupaten Gerbang Salam ini, tidak kurang dari 15 periode kepengurusan sudah silih berganti memimpin PCNU Pamekasan. Masing-masing periode kepengurusan berangkat dan bergerak dengan visi yang sama, yaitu Islam ‘ala thariqati ahlissunnah wal jama’ah yang berwawasan Ke-Indonesia-an (yang kemudian diistilahkan Aswaja An-Nahdliyyah), dengan missi yang sama, yaitu memasyarakatkan Aswaja dan meng-Aswaja-kan masyarakat.

Kita melihat dalam sejarah, ada benang merah antara satu periode kepengurusan dengan periode kepengurusan berikutnya, yaitu semangat untuk menjalankan amanah organisasi sebaik-baiknya, dengan mengejawantahkan program yang sudah tersusun ke dalam program aksi. Barangkali hanya satu yang membedakan, yaitu bahwa masing-masing bergerak dalam ruang dan waktu yang tidak sama, sehingga capaian prestasi masing-masing tidaklah serupa dan sebangun, karena sejatinya capaian prestasi itu merupakan akumulasi dari respon masing-masing atas situasi dan kondisi, untuk sebesar-besarnya dimanfaatkan bagi kemajuan NU jam’iyyah maupun jama’ah. Satu hal yang menggugah rasa kesyukuran kita (Nahdliyyin), yaitu bahwa masing-masing periode kepengurusan sudah berbuat yang terbaik untuk jam’iyyah ini, dan niscaya masing-masingnya menjadi landasan positif bagi periode berikutnya.

Kita melihat, bahwa capaian demi capaian program oleh masing-masing periode kepengurusan merupakan rangkaian yang tidak terpisahkan antara satu dengan lainnya, yang semuanya merupakan puzzle yang membentuk potret NU Pamekasan. Dengan demikian, masing-masing periode kepengurusan sudah membangun tonggak demi tonggak untuk bangunan jam’iyyah tercinta ini. Hanya sayangnya, kita kurang terbiasa mendokumentasikan dinamika organisasi secara baik, termasuk yang monumental sekalipun, sehingga bisa jadi langkah-langkah mulia assabiqunal awwalun secara detail hilang begitu saja tertimbun di bawah tumpukan debu sejarah.

Melihat dan membaca fakta semacam ini, terbersit dalam hati kita untuk meneguhkan dua hal:
Pertama, kita ingin sekali menghaturkan terima kasih yang setulus-tulusnya kepada Assabiqunal awwalun, terlebih para muassis hadzihil jam’iyyah, yang telah mewariskan NU secara utuh kepada kita, menanamkan spirit ke-NU-an, menjadikan NU sebagai rumah besar yang nyaman kita tempati seperti saat ini. Tantangan besar bagi kita untuk mewariskan jam’iyyah ini pula kepada anak cucu kita, seperti apa yang kita terima dari para Pendahulu.

لقد غرسوا حتى اكلنا واننا
لنغرس حتى ياءكل الناس بعدنا

Untuk mereka, kita lantunkan bait sebagaimana ditulis Imam Ibn Malik:

وهو بسبق حائز تفضيلا
مستوجب ثنائي الجميلا

Kedua, sebagai penerima estafet kepengurusan PCNU, sudah pasti kita menoleh ke belakang, apa kira-kira yang belum sempat dikerjakan para pendahulu —yang itu merupakan mata rantai perjuangan besar yang sudah mereka kerjakan— untuk selanjutnya kita tindak lanjuti, demi tujuan yang sama, yaitu membesarkan NU untuk kemanfaatan sebesar-besarnya bagi Islam, bangsa dan negara.

Dengan segala kekurangan, terutama setelah ditinggal almaghfurlah KH Mannan Fudloli, periode kepengurusan yang belum setengah jalan ini akan terus merawat semangat juang yang ada, yang niscaya merupakan bekal untuk menatap masa depan yang lebih baik. Almarhum Rais merupakan sosok yang tidak tergantikan. Tapi, kita yakin atas nashrun minallah dan potensi pengurus —dua prasyarat yang mengantarkan kesuksesan Rasulullah SAW, seperti diisyaratkan QS. Al-Anfal: 62— yang rata-rata handal, visioner, energik dan punya militansi kuat, baik dari jajaran Mustasyar, Syuriah, Tanfidziah, Lembaga dan Badan Otonom. Mereka semua adalah sekrup-sekrup bagi NU Pamekasan yang mampu membuat kerja-kerja organisatoris demi kejayaan NU li ‘izzil Islam wal muslimin, semoga.


Penulis adalah Pengasuh PP Al-Falah Sumber Gayam dan sekarang sedang menjabat sebagai Rais Syuriah PCNU Pamekasan