LPTNU Pamekasan Protes Buku “Pamekasan Dalam Sejarah”

4 tahun ago admin 0

PAMEKASAN – Lembaga Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama (LPTNU) Pamekasan merasa tersinggung dengan konten buku “Pamekasan Dalam Sejarah” cetakan ketiga yang diterbitkan pada tahun 2016 oleh Bagian Humas dan Protokol Sekretariat Daerah Kabupaten Pamekasan.

Moh. Fudholi, Ketua LPT PCNU Pamekasan, sangat menyayangkan terbitnya buku sejarah Pamekasan tersebut. Menurutnya, konten buku tersebut memuat opini minor tentang pesantren.

“Seakan penulis, utamanya Pemkab (Pemerintah Kabupaten. Red.) Pamekasan tidak faham tentang sejarah pesantren. Asumsi bahwa institusi pesantren berasal dari agama Hindu dan Budha perlu dikaji ulang. Padahal ini sudah dikritik oleh banyak ahli bidang kepesantrenan salah satunya oleh Zamakhsyari Dhofir dalam bukunya ‘Tradisi Pesantren’,” tegas alumni PP. Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, Situbondo, Jawa Timur, ini, Kamis (27/07/2017).

Penulis, lanjut Fudholi, seharusnya membaca banyak referensi ketika hendak menulis sebuah buku, artikel dan karya ilmiah lainnya terkait kepesantrenan.

Pemkab Pamekasan, masih menurut Fudholi, seharusnya sadar terhadap opini yang dilontarkan, dan mampu membangun komunikasi yang baik dengan pesantren, karena Pamekasan sebagai kota yang memiliki pesantren terbanyak di Madura.

“Namun dengan munculnya tulisan minor pada pesantren menunjukkan bahwa Pemkab tidak mampu membangun relasi yang harmonis dan dinamis dengan pihak pesantren,” tandasnya. “Pesantren bagi pemerintah hanya menjadi kambing hitam dalam dunia politik, hanya menjadi pendulang suara ketika pemilu, lalu dilecehkan tatkala sudah berkuasa,” lanjut Fudholi dengan nada tinggi.

FB_IMG_1500982504174

Alumni PMII Surabaya ini merasa sangat miris dengan konten buku tersebut. Karena, menurutnya, pesantren mempunyai banyak sumbangsih dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan Republik ini. Lebih dari itu, pesantren juga mempunyai peran yang sangat signifikan dalam membangun karakter masyarakat, kesejahteraan masyarakat serta pembinaan dan kerukunan dalam sistem sosial.

“Minimnya pemahaman penulis tentang kepesantrenan menjadi bumerang bagi masyarakat pesantren. Dan ini sesuai dengan maqalah bahwa jangan memberikan pekerjaan pada yang bukan ahlinya,” tegas Fudholi yang juga alumni PP. Panyeppen ini.

Di akhir wawancaranya, Fudholi meminta kepada seluruh pemikir, khususnya yang menggeluti kepesantrenan untuk memahami pesantren secara utuh.

“Pemahan tentang pesantren harus utuh, sejak kapan berdiri dan pengaruhnya dalam sosial masyarakat. Sejarah panjang pesantren juga tidak bisa dilepaskan dari sejarah awal Islam serta sejarah masuknya Islam pertama ke Indonesia. Asumsi bahwa pesantren bersal dari agama lain perlu dikaji ulang menginggat sistem Sinagong dan pendidikan Bhiksu tidak sama dengan sistem pesantren baik dari segi pembelajaran dan secara institusi,” pungkasnya.


Reporter: Ahnu
Editor: Ghazi